aqubocahpemimpi.blogspot.com

Kamis, 26 Juli 2012

Objek formal dan Objek material sosiologi bahasa


Objek formal dan Objek material
sosiologi bahasa

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setiap bidang ilmu tentu mempunyai kegunaan praktis. Begitu juga dengan sosiolinguistik yang merupakan ilmu pengetahuan yang empiris karena berdasarkan pada kenyataan-kenyataan yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sosiolinguistik juga dikatakan sebagai ilmu teoritis karena kita mengumpulkan dan mengatur gejala-gejala sosial berdasarkan teori, membuat penafsiran yang sistematis, dan memformulasi gejala-gejala itu.
Sosiolinguistik sebagai cabang linguistik memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubunngannya dengan pemakai bahasa di dalam masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidaka lagi sebagai individu, akan tetap sebaga masyarakat sosial. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan manusia dalam bertutur akan selalu dipengaruhi  oleh siituasi dan kondisi di sekitarnya. Sosiolinguistik berupaya menjelaskan kemampuan manusia menggunakan aturan-aturan berbahasa secara tepat dalam situasi-situasi bervariasi.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Selayang Pandang Sosiologi dan Linguistik

Sebelum kita memasuki pembahasan tentang objek kajian sosiolingistik, perlu kiranya teman-teman mahasiswa mengetahui tentang objek kajian masing masing disipilin ilmu ini, kita sudah mengetahui bahwa sosiolinguistik merupakan gabungan dari ilmu sosiologi dan linguistik. Sosiologi membahas tentang hubungan kemasyrakatan dalam kehidupan manusia sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdul Chaer dan Leonie Agustina dalam Sosiolinguistik Perkenalan Awal, bahwa sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat dan mengenai lembaga-lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat. ( Abdul Chaer & Leonie Agustina: 2004: 2 )
 Dengan kata lain sosiolinguistik mengkaji tentang permasalahan hubungan antara manusia.
Sedangkan menurut A. Wahid Sy, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk didalamnya perubahan-perubahan social. ( A. Wahid Sy.  Bunga Rampai Sosiologi Bahasa (Kumpulan Makalah). Tanpa halaman. ) Maka dapat diambil kesimpulan dari kedua teori tersebut bahwa sosiologi adalah ilmu yang mengkaji hubungan antara manusia.
Linguistik menurut Abdul Chaer & Leonie Agustina adalah ilmu yang mempelajari bahasa dan bidang ilmu yang menjadikan bahasa sebagai obek kajiannya. Maka disini jelas bahwa linguistik dalam pembahasannya berkaitan dengan seputar bahasa.
Menurut A. Wahid Sy. Linguistik dilihat dari segi sifat telaahnya di bagi atas
a.       Linguistik Mikro
Dimaksudkan sebagai linguistik yang sifat telaahannya lebih sempat, artinya bersifat internal. Hanya melihat bahasa sebagai bahasa, meneropong kegiatan-kegiatan yang kita jumpai dalam bahasa saja.
b.      Linguistik Makro
Sifat telaahnya bersifat eksternal, meneropong kegiatan bahasa misalnya pada bidang-bidang ekonomi, sejarah, bahasa digunakan sebagai alat untuk melihat bahasa dari sudut pandang di luar bahasa. ( A. Wahid Sy.  Bunga Rampai Sosiologi Bahasa (Kumpulan Makalah). Tanpa halaman )
Linguistik merupakan bidang kajian yang menjadikan bahasa sebagai objek kajian. Linguistik terbagi menjadi dua yaitu linguistik mikro yang mempelajari struktur internal bahasa dan linguistik makro yang mempelajari struktur eksternal bahasa.
Setiap kegiatan yang bersifat ilmiah tentu mempunyai objek. Begitu juga dengan linguistik, yang mengambil bahasa sebagai objeknya. Kata bahasa pada kalimat (1) jelas menunjuk pada bahasa tertentu, yaitu merupakan sebuah langue, (2) menunjuk bahasa pada umumnya, jadi suatu langange, (3) berarti sopan santun, (4) bahasa berarti kebijakan bertindak, (5) bahasa berarti maksudmaksud dengan bunga sebagai lambang, (6) kata bahasa berarti dengan cara, (7) kata bahasa berarti ujarannya, yang sama dengan parole menurut de Saussure, (8) kata bahasa berarti hipotesis.
Linguistik makro mengarahkan kajiannya pada hubungan bahasa dengan faktor – faktor di luar bahasa diantaranya :
·         Masyarakat Bahasa
Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal, atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama. Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada “merasa menggunakan bahasa yang sama”, maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit. Akibat lainnya adalah patokan linguistik umum mengenai bahasa menjadi longgar.
·         Variasi dan Status Sosial Bahasa
Bahasa bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam, dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam-ragam pula. Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya. Variasi T (Tinggi) digunakan dalam situasi resmi, sedangkan variasi R (rendah) dipelajari langsung oleh masyarakat umum. Adanya pembedaan variasi T dan R disebut diglosia.
·         Kontak Bahasa
Dalam masyarakat yang terbuka , artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggiota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat , akan terjadilah kontak bahasa. Kefasihan seseoarng untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung pada adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu. Dalam masyarakat yang bilingual atau mulilangual sebagai akibat adanya kontak bahasa adapat terjadi peristiwa interferensi, integrasi, alihkode, dan campurkode. Interferensi biasanya dibedakan dari integrasi. Dalam integrasi unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu, sudah dianggap, diperlakukan, dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau dimasukinya. Alih kode yaitu beralihnya penggunaan suatu kode ke dalam kode yang lain. Alih kode dibedakan dari campur kode. Alih kode terjadi karena bersebab. Dalam campur kode ini dua kode atau lebih digunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam situasi santai.
·         Bahasa dan Budaya
Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis yang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Hipotesis ini dikeluarkan ole Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan. Atau lebih jelasnya dapat mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Jadi, bahasa menguasai cara berpikir dan bertindak manusia.
karena bahasa merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu sangat luas. Karena itu, cabang linguistik makro menjadi sangat banyak salah satu diantaranya adalah sosiolinguistik.

B.     sosiolinguistik
Istilah sosiolinguistik ini muncul pada tahun 1952 dalam karya Haver C. Currie yang merupakan gabungan dari kata sosiologi dan linguistik. Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat dan mengenai lembaga – lembaga serta proses sosial yang terjadi dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah ilmu bahasa atau bidang yang menjadikan bahasa sebagai objek kajian. Salah satu teori sosiolinguistik yang bisa dipakai sebagai rujukan adalah teori dari Nababan, bahwa pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan… disebut Sosiolinguistik (oleh Nababan 1984:2 dalam Sosiolinguistik Perkenalan Awal)
Sosiolinguistik merupakan gabungan antara sosiologi dan disiplin linguistik. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat namun berbeda kajiannya. Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia di dalam masyarakat, dan mengenai lembaga-lembaga sosial dan segala masalah sosial dalam satu masyarakat, akan diketahui cara-cara manusia menyesuaikan diri denagan lingkungannya, masing-masing dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.
Istilah sosiologi bahasa sangat berkaitan dengan sosiolinguistik. Bahkan banyak orang menganggap bahwa keduanya sama. Namun jika diteliti, keduanya mempunyai perbedaan. Perbedaan tersbut diungkapkan oleh Fishman, pakar sosiolinguistik yang andilnya sangat besar dalam kajian sosiolinguistik. (Siti Nuranisah, Sosiologi Bahasa, imajiideku.blogspot.com/.../hakikat-sosiolinguistik-dan-sosiologi.htm )                     
Formal dalam Kamus Ilmiah Popular adalah : formil ; resmi; sah; secara teratur; dengan sungguh-sungguh; sesuai dengan adat kebiasaan.  ( Partanto, Pius A. dan M. Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Populer. Arkola. Surabaya. 1994 ) Sedangkan material adalah : kebendaan; sifat materi; bahan..
Namun ketika masuk pada objek suatu ilmu, maka makna formal dan material berubah sesuai dengan keilmuan tersebut. Objek formal bermakna kepada ilmu yang kita pelajari tersebut yang mengandung ontology, epistemology dan aksiologi seperti sosiologi, linguistik, psikologi dan sebagainya. Sedangkan objek material adalah realita yang ada pada ilmu yang kita pelajari, contoh seperti sosiolinguistik membahas realita kebahasaan dalam ranah sosiologi.
Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa melainkan dilihat dan didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat manusia (Chaer, 2004: 3).
         Sosiolinguistik adalah ilmu tata bahasa yang digunakan di dalam interaksi sosial; cabang linguistik tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial (KBBI, 2008 : 1332).
         Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Chaer, 2004:2).
         Menurut sejumlah ahli (Wardaugh, 1986, Holmes, 1995) sosiolinguistik adalah cabang ilmu bahasa yang berusaha menerangkan korelasi anatar perwujudan struktur atau elemen bahasa dengan faktor – faktor sosiokultural pertuturannya…(Dalam Wijana, 2010: 11).
         Kridalaksana mengatakan :”Sosiolinguistik yaitu cabang linguistik yang berusaha untuk menjelaskan ciri – ciri variasi bahasa dan menetapkan korelasi ciri – ciri variasi bahasa tersebut dengan ciri – ciri sosial (dalam Pateda, 1987: 2).


C.     Metodologi sosiologi bahasa
            Metode yang digunakan adalah metode linguistik dan sosiologi. Metode-metode linguistik dipakai untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa serta unsur-unsurnya dengan notasi tanda-tanda fonetik/fonemik. Metode sosiologi biasa dipakai dalam mengumpulkan data seperti, observasi, kuesioner, dan  wawancara. Analisisnya dapat menggunakan metode statistik, yakni untuk mendapatkan pola-pola umun dalam tindak laku berbahasa ( Ening Heryati, sosiolinguistik ).
            Objek kajian sosiolinguistik dapat diteliti berdasarkan pada tiga langkah, yaitu penyediaan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis. Ada prinsip yang wajib diingat dalam konteks penelitian sosiolinguistik, yaitu bahwa aspek luar bahasa sangat signifikan menjelaskan atau dijelaskan oleh bahasa itu sendiri. Artinya, konsep dasar kajian sosiolinguistik adalah konsep korelasi. Yang dilakukan peneliti di bidang ini adalah mengkorelasikan bahasa dengan aspek sosial (sosial budaya masyarakat). Seorang peneliti dalam bidang sosiolinguistik harus dapat membedakan bahasa sebagaimana adanya (deskriptif) dan bahasa sebagaimana seharusnya (preskriptif atau sering pula disebut normatif). Dalam studi sosiolinguistik jelas bahwa bahasa harus diteliti sebagaimana adanya. Oleh karena itu, bahan atau data linguistik yang diperoleh harus bersifat alamiah (naturally occuring language), tidak boleh dibuat-buat (contrived).
Ada dua metode penyediaan data yaitu metode observasi dan metode wawancara Metode observasi (dalam literatur metodologi penelitian linguistik di Indonesia) disebut metode simak, sedangkan metode wawancara disebut metode cakap (lih. Sudaryanto, 1993). Metode observasi adalah metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengamati objek kajian dalam konteksnya. Misalnya, seorang peneliti sedang meneliti pemakaian peribahasa, maka ia harus mengumpulkan peribahasa itu bersama dengan teks-teks lain yang menyertainya, para pemakai peribahasa itu, dan juga unsur-unsur nonverbal lain yang melatarinya, termasuk unsur prakondisi atau aspek sosial dan budaya. Pemakaian metode observasi dengan bahan teks sebagai acuan disebut penelitian kepustakaan (library research), sedangkan metode observasi dengan bahan teks dengan konteks  yang lebih luas disebut penelitian lapangan (field research). Dalam praktik pelaksanaan observasi ini, peneliti bisa melakukan pengamatan dengan cara terlibat langsung, dan bisa pula dengan cara tidak terlibat langsung. Observasi terlibat langsung ini sering dinamai metode observasi partisipasi atau metode observasi berperan serta, sedangkan observasi tidak terlibat langsung dikenal pula sebagai metode observasi nonpartisipasi atau metode observasi tidak berperan serta.  Nama-nama metode ini lazim dipakai dalam literatur metodologi penelitian sosiolinguistik (Chaika, 1982: 23) dan ilmu sosial lainnya ( Nasution, 2004: 106-113). Perlu diberi catatan bahwa Sudaryanto (1993: 133-134) menamakan metode observasi partisipasi sebagai teknik simak libat cakap, sedangkan metode observasi nonpartipasi sebagai teknik simak bebas libat cakap. Metode wawancara adalah metode penyediaan data dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan secara langsung.
Metode analisis dalam kajian sosiolinguistik ini dapat dibagi ke dalam dua jenis, pertama, metode korelasi atau metode pemadanan, yakni metode yang berkaitan dengan pengkorelasian objek bahasa secara eksternal dengan unsur nonbahasa, dan kedua, metode operasi atau metode distribusi, yakni metode yang berkaitan dengan pembedahan, pengolahan, atau pengotak-atikan teks verbal secara internal. Metode korelasi adalah metode analisis yang menjelaskan objek kajian dalam hubungannya dengan konteks situasi atau konteks sosial budaya. Metode operasi atau metode distribusi adalah metode analisis yang menguraikan unsur-unsur substansial objek kajian dan mendistribusikannya dengan unsur-unsur verbal lainnya untuk mendapatkan pola, aturan atau kaidah yang berhubungan dengan konteks situasi dan sosial budayanya.





BAB III
KESIMPULAN

Sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sisologi, dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dngan faktor-faktor sosial di dalam masyarakat tutur. Sedangkan Sosiologi bahasa adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk di dalamnya perubahan-perubahan sosial. Keduanya mempunyai perbedaan namun salaing berkaitan. Keeretan hubungan sosiolinguistik dengan sosiologi dapat kita lihat dalam penggunaan metode penelitian.

Saran
Makalah ini belum sepenuhnya sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dari pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan.
















DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul, dan Leonie Agustina. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Rineka Cipta. Jakarta. 2004 (cet. Ke-2)

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan al-Barry. Kamus Ilmiah Populer. Arkola. Surabaya. 1994

Sy, A. Wahid. Bunga Rampai Sosiologi Bahasa (kumpulan makalah). UIN Bandung. 2001

Wijana, I dewa putu, dan mohammad rohmadi. Sosiolinguistik: kajian teori dan analisis. Pustaka belajar. Yogyakarta. 2010

Siti Nuranisah, Sosiologi Bahasa, imajiideku.blogspot.com/.../hakikat-sosiolinguistik-dan-sosiologi.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar