aqubocahpemimpi.blogspot.com

Jumat, 13 Juli 2012

Pertumbuhan dan Ajaran Tasawuf Falsafi


makalah
Tasawuf
Pertumbuhan dan Ajaran Tasawuf Falsafi

Diajukkan untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Tasawuf
Dosen : M. Nurhasan
logouinbandung

        Disusun oleh :
                                                                     Emy Suci Triani
                                                                        1209502020

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG 2012





KATA PENGANTAR



بســـــــــــــم الله الرّحمن الرّحيـــــــــم

Alhamdulillah kami ucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan ridho-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Pertumbuhan dan Ajaran Tasawuf Falsafi sebagai tugas mata kuliah Tasawuf.
Kami sadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna sehingga kami mengharapkan kritik dan saran baik dari dosen pembimbing kami maupun dari pembaca.
Kami ucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu  tersusunnya proposal ini, dan kami ucapkan permohonan maaf apabila dalam makalah ini banyak kesalahan baik dari segi tulisan maupun isinya.
Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat, khususnya bagi kami dan umumnya bagi para pembaca. Mudah-mudahan Allah SWT selalu membimbing kita agar kita tetap di jalan-Nya.


Bandung,  Juni  2012


                                   Penyusun




i
DAFTAR ISI


Kata Pengantar i
Daftar isi ii
BAB I         Pendahuluan 1
BAB II        Pembahasan 2
Ø  Pengertian Tasawuf Falsafi 2
Ø  Pertumbuhan Tasawuf Falsafi 6
Ø  Ajaran Tasawuf Falsafi 9
       BAB III      Kesimpulan 13
Daftar Pustaka 14










                                                          ii



BAB I
PENDAHULUAN


Zaman sekarang disebut zaman modern, ditandai dengan kemakmuran material, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, serba mekanik dan otomatis. Materi telah mampu memberikan kesenangan dan kenyamanan lahiriyah.. Namun, semua itu, pada taraf tertentu, telah menimbulkan kebosanan. Bahkan banyak membawa bencana. Salah satunya adalah manusia modern telah dilanda kehampaan spiritual.Di tengah suasana seperti itu, manusia merasakan kerinduan akan nilai-nilai ketuhanan,nilai-nilai ilahiyah, nilai-nilai yang dapat menuntun manusia kembali kepada fitrahnya. Karena itu manusia mulai tertarik untuk mempelajari tasawwuf dan berusaha untuk mengamalkannya. Untuk mendekatkan diri pada Tuhan, maka harus menempuh jalan ikhtiar, salah satu jalan ikhtiar yaitu dengan mendalami lebih jauh ilmu tasawuf, untuk mengetahui sesuatu maka pasti ada ilmunya, banyak di kalangan orang-orang awam yang kurang mengetahui tentang ilmu mengenal tuhan. Dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah.
Berkembangnya tasaawuf sebagai jalan dan latihan untuk merealisir kesucia batin dalam perjalanan menuju kedekatan dengan Allah, juga menarik perhatian para pemikir muslim yang berlatar belakang teologi dan filsafat. Dari kelompok inilah tampl sejumlah kelompok sufi yang filosofis atau filosofis yang sufi. Konsep-konsep mereka yang disebut dengan tasawuf falsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. ajran filsafat yang paling banyak dipergunakan dalam analisis tasawuf adalah paham emanasi Neo-Plotinus.
Andaya pemaduan antara filsafat dengan tasawuf pertama kali di motori oleh para fisful muslim yang pada saat itu mengalami helenisme pengetahuan. Misalanya filsuf muslim yang terkenal yang membahas tentang Tuhan dengan mengunakan konsep-konsep neo-plotinus ialah Al-Kindi. Dalam filsafat emanasi Plotinus roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tapi, sama dengan Pythagoras, dia berpendapat bahwa roh masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor, dan tak dapat lagi kembali ke Tuhan. Selama masih kotor, ia akan tetap tinggal di bumi berusaha. dari sini di tarik ke dalam ranah konsep tasawuf yang berkeyakinan bahwa penciptaan alam semesta adalah pernyataan cinta kasih Tuhan yang direfleksikan dalam bentuk empirik atau sebagai mazhohir dari asma Tuhan.
Namun istilah tasawuf fal safi bulum terkenal pada waktu itu, setelah itu baru tokoh-tokoh teosofi yang populer. Abu Yazid al-Bustami, Ibn Masarrah (w.381 H) dari Andalusia dan sekaligus sebagai perintisnya. orang kedu yang mengombinasikan antara teori filsafat dan tasawuf ialah Suhrawardi al-Maqtul yang berkembang di Persia atau Iran. Masih banyak tokoh tasawuf falsafi yang berkembang di Persia ini sepeti al-Haljj dengan konsep al-Hulul yakni perpaduan antara isan dengan Tuhan.


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Tasawuf

Tasauf falsafi adlalah tasauf yang ajarannya-ajarannya memadukan antara visi dan mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasauwufakhlaqi, tasauf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafitersebut berasal dari bermcam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[1]
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.[2]
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis, sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Dari adanya aliran tasawuf falsafi ini menurut saya sehingga muncullah ambiguitas-ambiguitas dalam pemahaman tentang asal mula tasawuf itu sendiri. kemudian muncul bebrapa teori yang mengungkapkan asal mula adanya ajaran tasawuf. Pertama; tasawuf itu murni dari Islam bukan dari pengaruh dari non- Islam. Kedua; tasawuf itu adalah kombinasi dari ajaran Islam dengan non-Islam seperti Nasrani, Hidu-Budha, filsafat Barat (gnotisisme). Ketiga; bahwa tasawuf itu bukan dari ajaran Islam atau pun yang lainnya melainkan independent.
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlawi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi gilosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran yang telah mempengaruhi para tokohnya.
Menurut at-taftazani, tasawuf falsafi mulai muncul dengan jelas dalam khazanah islam sejak abad keenam hijriyah, meskipun para tokohnya baru dikenal seabad kemudian. Sejak tiu, tasawuf jenis ini tersu hidup dan berkembang, terutamadi kalangan para sufi yang juga filosof, sampai menjelang akhir-akhir ini.[3] Adanya pemaduan antar tasawuf dan filsafat dalam ajaran tasawuf ini dengan senidirnya telah membuat ajaran-ajaran tasawuf jenis ini bercampur dengan sejumlah ajaran filsafat di luar islam, seperti yunani, persia, india, dan agama nashari. Akan tetapi, orisianiltasnya sebagai tasawuf tetap tidak hlang. Sebab, meskipun mempunya latar belakang kebudayaan dan pengetahuan yang berbeda dan beragam, seiring dengan ekspansi islam, yang telah meluas pada waktu itu, para tokohnya tetap berusaham menjaga kemandirian ajaran aliran mereka, teruutama bla dikaitkan dengan kedudukannya sebagai umat islam. Sikap ini dengna sendirinya dapat menjelaskan kepada kita mengapa para tokoh tasawuf jenis ini begitu igih mempromikan ajaran-ajaran filsafat yang berasal dari luar islam tersebut ke dalam tasawif mereka, serta menggunakan terminologi-terminologi filsafat, tetapi maknanya telah disesuaikan dengan ajran tasawuf yang mereka anut.
Masih menurut at-taftazani, ciri umum tasawuf falsafi adalah ajarannya yang samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh siapa saja yang memahami ajaran tasawuf jenis ini.[4]
Tasawuf falsafi tidak dapat di pandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan padarasa (dzauq) tetapi tidak dapat pula di kategorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajrannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.[5]
Para sufi yang juga filosof pendiri aliran tasawuf ini mengenal dengan baik filsafat yunani seta berbagai aliran seperti socrates, plato, aristoteles, alira stoa, dan aliran neo-platonisme, dengan filsafatnya tentang emanasi. Bahkan, mereka pun cukup akbar dengan filsafat yang sering kali disebut hermenetisme yang karya-karyanya banyak di terjemahkan ke dalam bahasa arab dan filsafat-filsafat timur kuno, baik dari persia maupun india, serta filsafat-filsafat islam, seperti yang diajarkan oleh al-farabidan ibn sina. Mereka pun dipengaruhi aliran batiniah sekte isma'iliyyah aliran syi’ah dan risalah-risalah ikhwan ash-shafa’.[6]
Tasauf falsafi memiliki objek tersendiri yang berbeda dengan tasauf sunni. Dalam hal ini, ibnu khaldun, sebagaimana yang dikutip oleh at-taftazani dalam karyanya al-muqaddimah menyimpulkan bahwa ada emapat objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosof, antara lain sebagi berikut.
Pertama, latihan rohaniah dengan rasa, instusi serta intropeksi diri yang timbul darinya. Mengenai latihan rohaniah dengan tahapan (maqam) maupun keadaan (hal) rohaniah serta rasa (dzauq) para sufi filosof cenderung sependapat dengan para sufi sunni, sebab, masalah tersebut, menurut ibnu khaldun, merupakan sesuatu yang tidak dapat di tolak oleh siapapun.
Kedua, iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat-sifat rabbani, ‘arsy, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, roh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, terutama tentang penciptanya. Serta pencipatannya. Mengenai ilminasi ini, para sufi yang juga filosof tersebut melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syahwat serta menggairahkan roh dengna jalan menggiatkan dzikir. Dengan dzikir, menurut mereka, jiwa dapat memahami hakikat realitas-realitas.
Ketiga, peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
Keempat, penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syathayyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui, ataupun menginterprestasikannya dengan interprestasi yang berbeda-beda.

Pertumbuhan tasawuf falsafi

1.      Tasawuf Falsafi di Dunia Islam
Tasawuf falasafi secara sederhana dapat didefenisikan sebagai kajiandan jalan esoteris dalam Islam untuk mengembangkan kesucian bathin yangkaya dengan pandangan-pandangan filosofis. Keberadaan tasawuf bercorakfalsafi ini pada satu sisi telah menarik perhatian para ulama yang padaawalnya kurang senang dengan kehadiran filsafat dalam khazanah Islam.Sementara bagi para ulama yang menyenangi kajian-kajian filsafat dansekaligus menguasainya, tasawuf falsafi bagaikan sungai yang airnyademikian bening dan begitu menggoda untuk direnangi.
Ulama pertama yang dapat dianggap sebagai tokoh tasawuf falsafi adalahIbn Masarrah (w. 319/931) yang muncul dari Andalusia. Sekaligus diadapat dianggap sebagai filosof sufi pertama dalam dunia Islam.Pandangan filsafatnya adalah emanasi yang mirip dengan emanasi Plotinus.
Menurutnya, melalui jalan tasawuf manusia dapat melepaskan jiwanya daribelenggu/penjara badan dan memperoleh karunia Tuhan berupa penyinaranhati dengan nur Tuhan. Suatu ma’rifah yang memberikan kebahagiaansejati. Ia juga menganut pandangan bahwa kehidupan di akhirat bersifatruhani, sehingga di akhirat kelak manusia dibangkitkan ruhnya saja,tidak dengan badan. Pandangan yang amat mirip dengan penyataan IbnuSina tentang kebangkitan manusia kelak di akhirat.
Tokoh kedua yang berpengaruh besar dalam dunia tasawuf falsasi adalah Suhrawardi al-Maqtul, sufi yang dibunuh di Aleppo pada tahun 587/1191,-karena pandangannya yang telah keluar dari Islam menurut ulama fuqaha.Suhrawardi juga seorang penganut paham emanasinya Ibnu Sina. Bila tasawuf sunni (akhlaki) memperoleh bentuk yang final di tanganImam Al-Gazali, maka tasawuf falsafi mencapai ‘puncak’ kesempurnaandalam pengajaran Ibn Arabi, seorang sufi yang juga datang dariAndalusia. Pengetahuan Ibnu Arabi yang amat kaya dalam bidang keislamandan lapangan filsafat, membuatnya mampu menghasilkan karya yangdemikian banyak, di antaranya al-Futuhad al-Makkiyah dan Fushushal-Hikam. Boleh dikatakan hampir semua pengajaran, praktek dan ide-ideyang berkembang di kalangan sufi pada masa itu mampu diliput dankemudian diberinya penjelasan yang amat memadai.
2.      Tasawuf Falsafi di Nusantara
Wacana tasawuf falsafi di Nusantara agaknya dimotori oleh HamzahFansuri dan Syamsuddin Sumatrani, dua tokoh sufi yang datang dari pulauAndalas (Sumatera) pada abad ke 17 M. Sekalipun pada abad ke 15sebelumnya telah terjadi peristiwa tragis berupa eksekusi mati terhadapSyekh Siti Jenar atas fatwa dari Wali Songo, karena ajarannya dipandangmenganut doktrin sufistik yang bersifat bid’ah berupa pengakuan akankesatuan wujud manusia dengan wujud Tuhan, Zat Yang Maha Mutlak. Namun sejauh ini penulis belum menemukan literatur yang menjelaskanapakah paham yang dianut Syekh Siti Jenar adalah wahdatulwujud yangberasal dari Ibnu Arabi lewat ‘jaringan ulama’ sebagaimana dimaksudAzra dalam bukunya tersebut. Terlebih lagi terlalu sedikit literaturyang menjelaskan keberadaan sosok Syekh Siti Jenar dalam khazanahkeislaman di Nusantara. Paling tidak menurut Alwi Shihab, kehadiranSyekh Siti Jenar dengan ajaran dan syathahad-nya yang dipandang sesat,dapat dijadikan sebagai tahap pertama perkembangan tasawuf falsafi diIndonesia. cahaya perkembangan tasawuf falsafi di Indonesia dalam waktu yang lama, sampai kemudianmunculnya Hamzah dan Syamsuddin di Sumatera.
Hamzah Fansuri adalah keturunan Melayu yang dilahirkan di Fansur -namalain dari Barus-. Para peneliti tidak menemukan bukti yang valid kapansebenarnya Hamzah lahir. Dia diperkirakan hidup pada akhir abad ke 16dan awal abad ke 17, yakni pada masa sebelum dan selama pemerintahanSultan ‘Ala al-Din Ri’yat Syah (berkuasa 977-1011H/1589-1602M). Hamzahdiperkirakan meninggal sebelum tahun 1016H/1607M.
Hamzah memulai pendidikannya di Barus, kota kelahirannya yang padawaktu itu menjadi pusat perdagangan, karena saat itu Aceh berada dalamkemajuan di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda dan Iskandar Tsani.Kwalitas pendidikan yang cukup baik di Aceh menjadikan Hamzah dapatmempelajari ilmu-ilmu agama seperti ; fiqh, tauhid, akahlak, tasawuf,dan juga ilmu umum seperti ; kesustraan, sejarah dan logika. Selesaimengikuti pendidikan di tanah kelahirannya, Hamzah kemudian melanjutkanpendidikan ke Timur Tengah, khususnya Persia dan Arab. Sehingga diadapat menguasai bahasa Arab dan Persia, mungkin juga bahasa Urdu. Dalamhal tasawuf falsafi diperkirakan Hamzah mempelajari dari Iraqi, muridSadr al-Din al-Qunawi, murid kesayangan Ibnu Arabi.
Ajaran wujudiyah Hamzah ini kemudian dikembangkan oleh muridnyaSyamsuddin Sumatrani. Kebanyakan peneliti berpendapat, hubungan merekaadalah guru-murid. Abdul Azis juga membenarkan pendapat A. Hasymy bahwahubungan Hamzah dengan Syamsuddin sebagai murid dan khalifah, karenamenurutnya telah dijumpai dua karya Syamsuddin yang merupakan ulasanatau syarah terhadap pengajaran Hamzah yaitu : Syarah Ruba’i HamzahFansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol Terdapat banyak informasi tentang potret pribadi syeikh di antaranya :Hikayat Aceh, Adat Aceh, Bustan al-Salathin dan informasi daripengembara dan peneliti asing. Dari informasi tersebut dijelaskan bahwaSyamsuddin lahir kira-kira 1589 dan wafat 24 Februari 1630 berdasarkaninformasi Deny Lombard. Syaikh banyak melahirkan karya bermutu seperti: Jawhar al-Haqaiq, Risalah Tubayyin Mulahazah, Nur al-Daqaiq, Thariqal-Sahlikin, I’raj al-Iman dan karya lainnya. Syamsuddin menguasaibeberapa bahasa, tapi karya-karyanya kebanyakan ditulis dalam bahasaMelayu dan Arab. Pemikiran Hamzah tentang ajaran wujudiyah terdapat dalam karyanya Zinatal-Wahidin, yang terdiri dari tujuh bab. Menurut Hamzah hakekat dariZat Yang Maha Mutlak, Kadim dan pencipta alam semesta tidak dapatditentukan atau dilukiskan. Dalam kaitan ini bagi Hamzah alam yang padamulanya bersifat ruhani kemudian berubah berisifat jasmani adalahmanifestasi dari zat Ilahi. Zat Ilahi menampung seluruh wujud, sehinggadalam aspek transenden zat Tuhan tidak bertepi. Pada aspek immanen zatTuhan juga tidak terpisah dari alam. Lebih jauh Hamzah menjelaskantahap-tahap hubungan Tuhan dengan manifestasi-Nya, alam.




Ajaran-ajaran tasawuf falsafi
Ajaran filsafat tasawuf dari al-Hallaj ini intinya ada pada tiga perkara :
1) Hulul, yaitu Ketuhanan (lahut) yang menjelma dalam diri manusia(nasut)
2) Al-Hakikatul Muhammadiyah, yaitu Nur Muh}ammad sebagai asal usul segala kejadian amal perbuatan dan ilmu pengetahuan dan dengan perantaranyalah seluruh alam ini dijadikan
3) Kesatuan segala agama. Menurutnya, bila mana batin seorang insan telah suci bersih dalam menempuh perjalanan hidup kebatinan, maka akan naiklah tempat hidupnya itu dari satu maqam ke maqam yang lain, misalnya muslim, mukmin, solohin, mukarrabin, mukarrabin adalah orang yang paling dekat dengan Tuhan. Di atas tingkat ini tibalah ia dipuncak, sehingga bersatu dengan Tuhan. Apabila Ketuhanan telah menjelma di
dalam dirinya tidak ada lagi kehendak yang berlaku melainkan kehendak Allah. Ruh Allah telah meliputi dirinya sebagaimana yang telah meliputi Isa anak Maryam. Al-Hallaj adalah orang pertama yang mengajarkan bahwasanya kejadian alam mulanya adalah Nur Muhammad, atau Nur Muhammad adalah asal segala kejadian, Nabi Muhammad terjadi dalam dua rupa, yang qadim dan azali. Dia telah ada sebelum terjadinya seluruh yang ada. Wujudnya sebagai manusia adalah seorang Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan.
Tokoh ini juga berpandangan berbagai macam agama, seperti Islam, Nasrani, Yahudi dan lain-lain hanyalah perbedaan nama dari hakikat yang ada, hakikatnya satu saja. Segala agama adalah agama  Allah, maksudnya menuju kepada Allah. Orang lahir dalam satu agama atau memilih agama, bukan atas kehendaknya, tapi dikehendaki
untuknya, karena sudah ada takdir yang ditentukan Allah. Tak ada gunanya mencela orang berlainan agama dan berselisihm, yang penting perdalamlah pegangan agama masing-masing. Dari uraian di atas dapat dipahami, hulul dan ittihad ada kemiripan, yaitu bersatunya manusia dengan Tuhan setelah menempuh tahap-tahap fana, lalu menghilangkan kefanaan itu sehingga ruh Allah meliputi dalam dirinya. [7]

A.      Ajarn-ajaran tasawuf ibn’arabi
a.      Wahdat al-wujud
Ajaran sentral ibn ‘ibn arabi adalah tentang wahdat al-wujud (keastuan wujud). Meskipun demkian, istilah wahdat al-wujud yang di pakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu, tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari ibnu taimiyah, tokoh yang hwahdat al-wujud untuk menyebut ajaran sentral ibn ‘arabi, mereka berbeda pendapat dalam memformulasikan pengertian wahdar al-wujud.
Menurut ibnu taimiyah wadah al-wujud adalah penyamaan tuhan dengan alam menurut penjelasannya, orang yang mempunya paham wahdat al-wujud mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib al-wujud yang di miliki oleh khliq juga mukmin al-wujud yabg di miliki oleh makhluk, selain itu, orang-orang yang mempunyai paham wahdat al-wujud itu juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud tuhan, tidak ada perbedaan.[8]
b.       Haqiqah muhamaddiyah
Dari konsep wahdat ibn ‘arabi muncul lagi dua konsep sekaligus merupakan lanjutan atau cabang dari konsep wahdat al-wujud, yaitu konsep al-hakikat al muhamaddiyah dan konsep wahdat al-dyan (kesamaan agama)
c.       Wahdatul adyann
Adapun yang berkenaan dengan konsepnya wahdat al-ady (kesamaan agama), bin ‘arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu, yaitu hakikat muhamaddiyah.k onsekuensinya, semua agama adalah tunggal dan semua itu kepunyaan Allah. Seseorang yang benar-benar arif adalah menyembah Allah dalam setiap bidang kehidupanya, dengan kata lain dapat di katakan bahwa ibadah yang benar hendaknya abid memandang semua apa saja sebagai segbagian dari ruang lingkup realitas dzat tuhan yang tunggal sebagaimana ‘irnya, dikemukakannya dalam sya’irnya
“kini Qalbuku bisa menampung semua
Ilalang perburan kijang atau biara penderan
Kuil pemuja berhala atau ka’bah
Lau taurah dan mushalaf al-qur’an
B.      Ajaran tasawuf al-jili
Ajaran tasawuf al-jili yang terpenting adalah paham insan kamil (manusia sempurna) menurut al-jili insan kamil adalah nuskhah atau copy tuhan, seperti di sebutkan dalam hadis Artinya: Allah menciptakan adam dalam bentuk yang maharman “ maqamat (al-martabah)
sebagai seorang sufi, al-jili dengan membawa filsafat inasn kamil merumuskan beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi, yang menganut istilahnya ia disebut al-martabah (jenjang atau tingkat) tingkat itu adalah
1.      Islam
2.      Iman
3.      Shalah
4.      Ihsan
5.      Syahdah
6.      Shiddiqiyah
7.      Qurbah
C.      Ajaran tasawuf ibn sabi’in
a.      Kesatuan mutlak
Ibn sabiin adalah seorang pengasas sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan esensial pahamnya sederhanas saja, yaitu wujud adalah suatu alias wujud Allah semata. Wujud-wujud lainnya hanyalah wujud yang satu itu sendiri. Jelasnya, wujud-wujud yang lain itu hakikatnya sama sekali tidak lebih dari wujud yang satu semata. Dengan demikian, wujud dalam kenyataan hanya satu persoalan yang tetap.
Paham ini lebih di kenal dengan sebutan paham paham kesatuan mutlak. Hal ini karena dia berbeda dari paham-paham tasawuf yang memberi ruang lingkup pada pendapat-pendapat tentang hal yang mungkin di dalam suatu bentuk , kesatuan mutlak ini , atau kesatuan murni atau yang menguasai menurut terminologi ibnu sabi’in pun, hampir tidak mungkin mendiskripsikan kesatuan itu sendiri. Hal ini karena ada pengikutnya terlalu berlebihan dalam memutlakkannya, dan karena gagasan tersebt menolak semua atribut, tambahan, ataupun nama. Dengan begitu, pada gagasan ini dikenakkan konsepsi-konsepsi manusia.




BAB III
Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa tasawuf itu benar-benar asali (murni) dari ajaran Islam yang tidak di syari’atkan atau di sunnahkan oleh nabi meskipun beliau juga melakukanya. Kemudian pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf itu berasal dari akulturasi ajaran lain termasuk gnotis itu juga tidak bisa disalahkan, sebab adanya pengklasifikasian tasawuf sehingga muncul beberapa tasawuf, seperti tasawuf sunni, salafi dan tasawuf falsafi membuat determinasi diantaranya. maka jikalau dikatakan tasawuf adalah akulturasi antara Islam dengan yang lain itu termasuk tasawuf falsafi yang mana telah mengedepankan asas rasio sehingga berbaur dengan fisafat-filsafat yang ada di ajaran lain.
















Daftar Pustaka

Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani, Pustaka, Bandung, 1985.
Mas Gun, tasawuf falsafi http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/02/tasawuf-falsafi.html
Muhammad Mahdi Al-Istanbuli, Ibn Taimiyah: Batha Al-Ishlah ad-Diniy, Dar Al-Ma’rifah, Damaskus, 1397 H/1977. www.tasawufislam.blogspot.com



[1] Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani, Pustaka, Bandung, 1985, hlm, 187
[2] Mas Gun, tasawuf falsafi http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/02/tasawuf-falsafi.html
[3] Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani, Pustaka, Bandung, 1985, hlm, 187
[4] Ibid.
[5] Ibid, h. 188
[6] Ibid.
[8] Muhammad Mahdi Al-Istanbuli, Ibn Taimiyah: Batha Al-Ishlah ad-Diniy, Dar Al-Ma’rifah, Damaskus, 1397 H/1977. www.tasawufislam.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar